SESAT
Oleh : Sintia Devi Maysaroh
Di balik kemegahan rumah Joglo milik seorang pemuka agama di Desa Tambakromo menyimpan kepedihan yang mendalam. Pak Romli itulah sapaan akrab pemuka agama desa Tambakromo tersebut. Salah satu kamar yang ada di rumahnya terdapat cerita yang memilukan. Tak begitu terlihat jelas disalah satu sudut kamar yang pengap itu, terlihat samar – samar seorang pemuda terpasung dan tertunduk lesu. Tak ada satu pun celah cahaya yang mampu menembus ketebalan tembok kamar itu dan menyinari wajahnya. Seorang wanita renta yang berada dibalik pintu memandanginya dengan nanar. Tak terasa sudah seharian wanita itu memandangi putranya, cucuran air mata terus mengalir melewati pipinya yang kusut termakan usia.
Kejadian itu bermula tujuh tahun silam, pak Romli dan Bu Asih adalah pasangan suami istri yang dikarunia seorang putra yang amat tampan. Putranya tersebut sudah beranjak dewasa, dia bernama Mansyur Ahmad. Mansyur merupakan anak yang penurut, apapun perintah dari orangtuanya selalu dia taati.
Lulus dari sekolah dasar pak Romli dan Bu Asih mengirim putranya ke salah satu pondok pesantren salafiah ternama di Jombang. Mereka memilih pondok pesantren sebagi tempat belajar Mansyur karena mempunyai alasan yang kuat. Pak Romli ingin putra semata wayangnya itu mendapat ilmu agama yang luas agar dikemudian ia hari dapat menggantikan beliau memimpin masyarakat desa Tambakromo dalam bidang agama.
Mansyur merupakan anak yang pendiam, saat di pondok pesantren pun dia tak banyak berinteraksi dengan teman-temannya. Jika ada waktu luang ia lebih memilih berdiam diri sambil membaca kitab-kitab kuning. Kitab kuning merupakan kitab yang berbahasa arab dan tanpa ada kharokat. Untuk mengartikan kitab itu seorang harus menguasai ilmu nahwu dan shorof, ilmu itu merupakan ilmu tata bahsa arab. Dan agar kitab itu mudah dibaca biasanya para ustadz membacakan artinya dalam bahasa jawa kemudian para santri menuliskan artinya tersebut dalam huruf arab tanpa harokat tepat dibawah kata yang hendak mereka artikan secara menurun. Hal tersebut biasa disebut dengan maknani atau membuat jembrokan.
Mansyur sangatlah kritis saat ia sekolah diniyah ia selalu mengajukan pertanyaan – pertanyaan kepada sang ustads. Sekolah diniyah merupakan sekolah yang ada di dalam pondok pesantren yang khusus mempelajari ilmu agama Islam. Biasanya sekolah ini di laksanakan sore atau malam hari seusai para santri melaksanakan sekolah umum. Saat itu kelas Mansyur mempelajari kitab Jawahirul Kalamiyah karya Thahir Bin Saleh Al-Jazari. Kitab itu merupakan kitab Tauhid. Saat itu bab yang dipelajari tentang Iman kepada Allah swt. Pertanyaan aneh terlontar dari bibir Mansyur “pak ustadz, saya mau bertanya! Bagaiman kita bisa percaya kepada Alloh, sedangkan Siapa Alloh dan bagaimana asal usulnya saja saya tidak tahu” mendengar pertanyaan itu wajah sang ustadz berubah merah dan terlihat geram. Rupanya itu bukan pertama kalinya Masyur mengajukan pertanyaan yang sama. “Mansyur! Sudah 3 tahun kamu berada di Pesantren ini, lantas kenapa kamu tak kunjung merubah cara fikir mu, sudah berulang kali kamu mempertanyaakan hal itu. Kita sebagai umat islam tidak boleh memikirkan dzat Alloh, Alloh itu bersifat Wujud. Kita harus beriktikat bahwa Alloh Swt mempunyai sifat itu, kita harus mempercayai hal itu, apakah kamu mengerti?” tak ada jawaban yang keluar dari mulut Mansyur, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan ragu dan tak tampak ada kepuasan diwajahnya.
Teman – teman Mansyur mulai menjauhinya, mereka mengira bahwa Mansyur sudah gila, kerap sekali Mansyur meninggalkan pondok pesanteren tanpa izin terlebih dahulu ke pak Kyai, dan teman-temannya pun tak ada yang tahu kemana ia pergi. Suatu hari Mansyur pergi ke solo, ia bergabung dengan aliran islam yang gempar di kota itu, yaitu Majelis Ta’lim Al-Qur’an. Masyarakat biasa menyebutnya dengan MTA. Sudah satu tahun Mansyur bergabung dengan Jama’ah itu dan sampai saat itu pula perang dihatinya belum bisa berdamai, pertanyaan itu masih menjadi tanda tanya besar di otaknya.
Ternyata orang tua Mansyur tidak mengetahui selama ini yang terjadi dengan putra mereka. Pak Romli dan Bu Asih berniat berkunjung ke Jombang untuk menemui Manyur, karena sudah setahun lebih putra mereka tidak pulang ke kampung halamannya Tambakromo Ngawi. Mendengar penjelasan dari pak Kyai bahwa Mansyur sudah meninggalkan pondok pesantren selama satu tahun mereka sangat kaget, sangat terlihat jelas raut kececewaan di wajah pak Romli. Wajah keriput itu tak mampu menyembunyikan rasa kekhawatiran dan kekecawaan yang saat itu sedang bergejolak di hatinya.
Sepulang dari Jombang hari-hari pasangan pemuka Agama itu sangatlah buruk, kesehatan Bu Asih mulai menurun. Setiap hari tangisnya pecah menghiasi pipinya yang kusut. Sedangkan pak Romli mencoba dengan meminta bantuan kepada pihak kepolisian untuk mencari keberadaan Mansyur. Dan saat itu pula kabar bahwa Mansyur melarikan diri dari pondok pesanteren menyebar keseluruh telinga masyarakat Desa Tambakromo. Sejak saat itu pula pak Romli kehilangan simpatik dari masyarakat Desa, mereka menganggap pak Romli tidak pecus mendidik anak dan sudah tidak pantas lagi menjadi pemuka agama di Desa mereka.
Sudah dua tahun Mansyur bergabung dengan MTA, dan ternyata menurut Mansyur MTA juga belum bisa menjawab pertnyaan besarnya itu. Ia terus beralih dari satu aliaran ke aliaran agama islam yang lain dari kota satu ke kota yang lain, aliran itu adalah LDII, Hisbut Tahrir, Muhammadiyah, dan masih banyak lagi aliran agama islam yang Mansyur ikuti. Sampai suatu saat ia memutuskan ke Surabaya, ia mendengar ada aliran baru disana, dengan harapan aliran itu dapat menjawab pertanyaannya sampai timbul kepuasan di hati Mansyur.
Sudah satu pekan Mansyur mengikuti pengajian sesat itu, jama’ahnya tidak terlalu banyak hanya ada 15 orang dan 1 pemimpin. Dan keberadaannya pun tak begitu jelas, mereka yang ikut dalam aliran sesat itu lebih menutup diri dari masyarakat. Dan pengajian yang mereka adakan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.
Dialiran sesat itu Mansyur dicekoki hal-hal yang tidak masuk akal, seperti sholat wajib lima waktu disuruh meninggalkan, membaca Al-Qur;an tidak perlu berwudhu, dihalalkan untuk berzina, surga dapat dibeli dengan uang dengan cara bersedekah kepada pemimpin aliran tersebut dan masih banyak lagi. Pemimpin aliran selalu meminta uang sedekah kepada jama’ahnya. “Uang tersebut untuk membeli surga” tuturnya. Hanya Mansyur yang selama ini tak mau memberinya sedekah. Hingga suatu saat pemimpin aliran sesat itu tanpa sungkan meminta uang kepadanya “Mansyur, mana uang sedekah mu? Sudah 2 bulan kamu mengikuti pengajian saya, tapi kenapa kamu tak mau bersedekah untuk membeli surga” dengan tatapan pasti Mansyur menjawab “aku akan membayar sedekah berapapun yang kau minta asalkan engkau bisa memberi kepuasan di hatiku atas pertanyaan yang akan aku tanyakan padamu” mendengar persyaratan yang diajukan Mansyur, pemimpin aliran sesat itu mengangguk mantab. “lantas apa yang hendak kamu tanyakan?” tanyanya sesaat kemudian. “siapa tuhan yang wajib kita imani, dan dapatkah kamu menceritakan asal usulnya” mendengar pertanyaan dari Mansyur dia tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata “aku lah tuhan yang wajib kamu imani, aku tahu cara agar manusia dapat masuk suraga. Jadi aku lah tuhan yang selama ini kamu cari” mendengar jawaban itu kepala Mansyur yang mulanya tertunduk langsung mendongak, matanya melotot memandang sang pemimpin aliran sesat itu, bukan main kangetnya Mansyur mendengar hal itu.
Perang dihati Mansyur sampai saat itu belum juga berdamai, gejolak di hatinya semakin bertambah setelah mendengar jawaban yang tidak masuk akal dari sang pemimpin aliran sesat tadi. Pada suatu malam Mansyur pergi ke pantai Kenjeran untuk menenangkan diri dan mencoba berfikir dan berfikir lagi mencari Tuhan yang akan ia imani.
Menjelang tengah malam pantai kenjeran nampak sepi, tak ada lagi orang berlalu lalang di sekitar pantai. Suasana dingin pantai menusuk tulangnya, angin yang semeribit menyapa kulitnya yang sama sekali nampak tak takut dihempasnya. Tepat di ujung pantai ia terduduk, sesekali ombak besar menghantamnya hingga membuat tubuh itu basah kuyup. Rasa dingin karena angin dan air sama sekali tak dirasa oleh Mansyur. Dimalam itu Mansyur berfikir keras, sekeras batu karang ditengah lautan. Saat itu Mansyur sempat berfikir jika islam tidak bisa memberi kepuasaan di hatinya, apakah ia harus berpindah agama yang lain? Dengan mantab ia meyakinkan dirinya bahwa ia akan berpindah dari agama satu ke agama yang lain untuk mencari Tuhan.
Pikiran Mansyur sudah melantur sampai kemana-mana hingga ia tak sadar kulit tubuhnya menjerit dan mengeriput karena ganasnya air dan angin pantai. Batu karang besar sekuat apapun dapat tergerus dengan air, begitu juga dengan pikiran Mansyur. Semakin ia berfikir keras mencari Tuhan semakin ia menyadari emosi jiwanya semakin tak terkendali. Mansyur berteriak – teriak memecah kesunyian malam. Teriakannya yang keras terlihat seperti perlombaan antara dia dan air laut yang menghantam karang dengan keras dan ganas.
Tanpa Mansyur sadari jiwanya sudah tak terkendali lagi, Mansyur mengoceh sendiri tanpa tahu kata apa yang keluar dari mulutnya itu. Hingga pagi menjelang dan Matahari menyapanya dengan ramah sama sekali tak ia sadari. Mansyur berlarian mengelilingi pantai seraya ia berkata “siapa tuhanku” berulang kali ia mengucapkan hal tersebut dan terus berlarian, sesakali nampak ia tertawa terbahak – bahak. Mansyur semakin tak dapat mengendalikan dirinya. Jelas ia sudah gila. Sampai pakaian yang melekat ditubuhnya pun ia tanggalkan.
Melihat kejadian itu masyarakat sekitar pantai kenjeran meminta bantuan kepada pihak kepolisian untuk mengamankan Mansyur. Ternyata orang yang selama ini mereka cari dapat ditemukan walau dalam keadaan gila. Pihak kepolisian langsung mengantarkan Mansyur ke kampung halamannya Tambakromo Ngawi.
Mendapati anaknya kembali kerumah pak Romli dan Bu Asih sangat lega namun tangis bu Asih tiba-tiba pecah saat mengetahui bahwa putranya tersebut menjadi gila. Beberapa hari berada di rumah, Mansyur tidak menunjukkan perubahan dan tanda-tanda ia akan sembuh pun sama sekali tak terlihat, padahal pak Romli dan bu Asih sudah berusaha keras menyembuhkan Mansyur dengan cara medis maupun spiritual.
Enam bulan telah berlalu. Bukan semakin membaik keadaan Masyur malah semakin memburuk. Hingga ia berusaha melukai dirinya sendiri. Masyarakat desa Tambakromo sangat takud dan resah melihat keadaan Mansyur. Mereka takud jika suatu saat nanti Mansyur melariakan diri dari rumah kemudian melukai mereka.
Warga berdatangan ke rumah pak Romli. Bukan untuk membantu atau memberi semangat kepada keluaraga pak Romli. Mereka justru mendesak agar Mansyur diusir dari Desa itu. Lagi – lagi tangis bu Asih pecah, membayangkan saja ia tak sanggup jika harus berpisah dengan putranya.
Mansyur semakin menjadi jadi, ia semakin berusaha untuk melukai dirinya sendiri. Saat itu bu Asih berfikir jika Mansyur seperti itu terus bukan tidak mungkin warga akan mengusirnya dengan paksa. Bu Asih memutuskan untuk terus menjaga Mansyur di rumahnya tersebut. Hingga akhirnya Mansyur terjaga dalam sebuah pasungan.
KEMBANG DESA DAN KAMBING TERBANG
Oleh : Sintia Devi Maysaroh
Jaman yang sudah modern ini, tak disangka – sangka ternyata masih ada desa yang menyandang predikat “udik bin unik”. Maklum saja karena desa ini terletak di pelosok nan jauh sekali, yang tak banyak orang tahu akan keberadaannya. Desa ini juga mempunyai nama yang unik yaitu “Desa Anteng lan Ayem” istilah tersebut diambil dari Bahasa Jawa yang berarti Desa diam dan tenang.
Sesuai banget dengan namanya, suasana Desa tersebut sangatlah sepi. Jarang sekali terlihat lalu lalang motor atau mobil yang melintasi Desa itu, terang saja karena akses menuju dan jalanan di Desa Anteng lan Ayem masih ngronjal-ngronjal alias belum diaspal. Sudah pasti masyarakat luar Desa tersebut enggan untuk sekedar singgah di Desa yang terkenal akan sepinya tersebut.
Karena masyarakat Desa Anteng lan Ayem sangat udik dan tak banyak bergaul dengan orang – orang dari lain Desa, mereka mempunyai kebiasaan menikah dengan orang Desa tersebut pula. Bahkan sampai beranak pinak, dan anaknya menikah lagi dengan orang Desa situ juga sampai seterusnya. Belum tau dech sampai kapan kebiasaan ini akan berakhir. Mungkin sampai desa ini menyandang predikat “desa modern” tapi hal itu sangat sulit terjadi. Yang ada Desa ini semakin hari semakin terlihat udik, itu artinya kadar ke-katroka-an mereka semakin bertambah dan terus bertambah.
Masyarakat Desa Anteng lan Ayem didominasi kaum pria, walaupun demikian tidak terlihat sama kali aktifitas perjudian dan sabung ayam layaknya masyarakat Desa lain, mereka lebih memilih berdiam diri di dalam rumah dan mempersiapkan jurus ampuh mereka untuk memikat gadis pujaannya. Maklum saja, karena stok gadis di desa ini tidak terlalu banyak dan bahkan hanya seperempat dari jumlah semua bujangan di desa tersebut. Sudah pasti persaingan di antara para bujangan sangatlah ketat.
Ada satu gadis yang sangat menjadi idola hampir semua lelaki di desa itu, tidak hanya para bujangan yang bersaing merebutkan gadis itu, bahkan mereka yang sudah beristri tak mau kalah ikut bagian dalam memperjuangkan cintanya. Tentu saja mereka itulah yang disebut “bapak-bapak kucing garong”, sudah punya istri satu apa masih kurang ? penyakit masyarakat yang tak tahu sampai kapan dapat musnah
Gadis yang menjadi idola hampir semua lelaki itu bernama Siti Gabriella nama panggilannya Gebi. Siti Gabriella alias Gebi mempunyai paras yang amat cantik dan kulit putih. Ia merupakan warga pendatang yang nggak jelas asalnya dari mana. Tapi ia terlihat senang tinggal di desa itu dan tak menganggap kalau desa itu adalah desa unik bin udik. Tentu saja masyarakat desa Anteng lan Ayem menerimanya dengan senang hati. Terutama kaum laki-laki, itu artinya ada satu kesempatan bagi mereka yang belum mendapatkan istri. Maklum saja masih banyak laki-laki bujang di desa itu sedangkan jumlah para gadis semakin hari semakin berkurang karena persaingan ketat yang terjadi di antara mereka.
Anto adalah salah satu pembujang yang sampai saat ini belum laku, nama panjangnya Antonius Saturnus Neptunus, pemuda pengangguran yang setiap hari menghabiskan waktu dengan seekor kambing peliharaannya yang ia beri nama Mulan Jamedong di lapangan desa. Anto termasuk pemuda yang masuk daftar madesu alias masa depan suram. Karena cintanya yang selalu di tolak oleh para gadis yang ada di desa itu.
Baru beberapa hari berada di Desa Anteng lan Ayem Gebi sudah menjadi Kembang desa tersebut. Gebi menjadi buah bibir masyarakat karena kecantikannya. Para pembujang dan bapak-bapak kucing garong berkompetisi memperjuangkan cinta mereka. Tapi Anto adalah satu-satunya pemuda pembujang yang tak ikut dalam kompetesi merebutkan cinta Gebi. Ia sudah tak yakin cintanya bakalan diterima Gebi, paling-paling ia bakalan ditolak untuk yang ke-seratus kalinya. Maka dari itu ia menggurungkan niatnya untuk mendekati Gebi. Karena ia malu dengan dirinya sendiri yang sudah ditolak sembilan puluh sembilan gadis Desa Anteng lan Ayem.
Gebi tinggal sendirian di Desa tersebut, tanpa ada keluarga yang menemaninya. Keluarganya meninggal pada suatu kecelakaan, kemudian ia mengembara dan sampailah di desa tersebut, katanya memelas. Gebi hanya mempunyai satu teman setia yaitu Akamat Donkinol. Donkinol adalah nama kambing peliharaannya. Jika malam hari Donkinol berubah menjadi Kambing terbang yang siap mengantar Gebi ke semua tempat yang Gebi inginkan. Itu sebabnya setiap malam hari para pembujang yang sedang berjuang mendapatkan cinta Gebi selalu clingukan mencari Gebi yang tak tahu entah kemana.
Karena banyak warga yang antusias ingin memperistri Gebi. Kepala desa setempat membuat jadwal berkunjung ke rumah Gebi alias apel. Kata beliau si Kepala Desa, hal iti untuk menghindari pertengkaran antar kompeten.
Ternyata kebijakan kepala desa sangatlah efektif. Terbukti sudah tidak ada lagi perebutan waktu apel. Tapi Gebi menolak jika ada orang apel di malam hari, katanya itu nggak baik untuk ia yang masih perawan. Dan akhrinya pak lurah menyetujui permintaan Gebi, pak lurah menghimbau pada warganya untuk tidak berkunjung ke rumah Gebi pada malam hari.
Pada suatu malam Aneh ada kejadian yang nyeleneh, malam itu tepat malam bulan purnama. Anto dan Jamedong bermaksut pergi ke sungai untuk memancing. “Karena malam ini adalah malam bulan purnama pasti bakalan banyak ikan yang akan kita dapat” kata Anto pada Jamedong. Hal itu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat desa Anteng lan Ayem, kebiasaan Anto yang suka ngobrol dengan Jamedong menjadikan ia di cap sebagai pembujang edan alias pembujang gila. Disepanjang jalan menuju sungai Anto mengajak ngobrol Jamedong, dan hanya dengan suara “embeeeeeekkkk” yang selalu Jamedong berikan untuk menjawab semua ocehan Anto. Tiba – tiba langkah Anto dan Jamedong mendadak berhenti dan mereka berdua langsung mingkem menghentikan semua ocehan. Pandangan mereka tertuju pada sebuah rumah yang dikelilingi kabut dan terlihat ada cahaya merah menganga yang keluar dari balik jendela rumah itu. Sontak mereka mlongo dengan kompaknya, seakan tak percaya pada yang mereka lihat. Gebi keluar dari rumah itu dengan kambing kesayangannya. Tapi itu bukan Gebi yang seperti biyasa, Gebi memakai jubah hitam lengkap dengan sapu terbang ditangan kirinya persis seperti penyihir profesional. Dan yang paling mengherankan Donkinol berubah menjadi seekor kambing terbang lengkap dengan dua sayap hitam yang melebar. Gebi naik pada punggung Donkinol dan beranjak terbang meninggalakan rumahnya. Anto yang tak percaya melihat pemandangan itu yang mulanya mlongo langsung menelan ludah sambil melotot, Jamedong yang tadinya mlongo juga seakan tak percaya akan hal itu ia mengembek dengan keras tanpa ia sadari, ia bermaksut menyadarkan Anto dari bengongnya. Tapi hal itu justru membuat Gebi sang kembang desa dan Donkinol sang kambing terbang menghentikan penerbangannya yang baru beberapa meter di atas rumahnya. Donkinol dan Gebi memutar arah dan melemparkan pandangan mereka pada sekitar rumah yang baru mereka tinggalkan beberapa detik tadi, mereka mencoba mencari sumber suara yang tadi terdengar keras ditelinga mereka, walaupun itu hanya suara kambing tapi mereka merasa terancam karena suara itu. Wajah Anto berubah menjadi pucat pasi, keringat dingin keluar dari balik pori-porinya, tumbuhnya bergetar dan matanya tak berkedip melihat Gebi yang sedang clingukan. Jamedong menendang kaki Anto dengan maksut mengajaknya bersembunyi dibalik pohon pisang yang lebat, untunglah Anto segera tersadar dan mengikuti langkah Jamedong dan akhirnya mereka tidak dapat ditemukan Gebi dan Donkinol.
Sepertinya Gebi dan Donkinol sudah tidak menghiraukan suara embekan tadi, mereka memutar arah kembali dan melanjutkan penerbangannya. Anto dan Jamedong melepaskan nafas panjang, mereka tertunduk lesu di bawah pohon pisang. Mereka masih tidak percaya pada kejadiyan yang baru saja mereka alami itu. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju sungai, tanpa ada perbincangan lagi diantara mereka. Hanya kebisuan yang menemani langkah – langkah itu. Tidak seperti biasanya, jika biasanya Anto dan Jamedong setiba di sungai langsung tertawa dengan girang dan semangatnya membara untuk menguras habis semua ikan yang ada di sungai. Tapi malam itu semangat dan tawa tidak terlihat diantara mereka, hanya tatapan kosong yang ada dimata Anto.
Pagi harinya suasana desa agak sedikit berbeda, semua laki-laki di desa itu membincangkan Gebi sang kembang desa, di sawah, di pos kampling, bahkan di warung kopi yang biasanya sepi tanpa pengunjung mulai pagi itu mendadak ramai dipenuhi laki-laki yang tak lain dan tak bukan membincangkan tentang kecantikan sang kembang desa. Anto yang pagi itu bermaksut hendak pergi ke lapangan mengembalakan si Jamedong terheran heran melihat pemandangan yang tak biasa itu, hanya dia yang sepertinya tidak tersihir akan kecantikan Gebi sang kembang desa. Semua laki – laki dari anak kecil, pembujang, bapak – bapak samapai kakek – kakek sangat berantusias ingin mengungkapkan cintanya pada Gebi. Peraturan dan jadwal apel yang dibuat pak lurah sudah tidak berlaku lagi. Semua lelaki Desa Adem lan Ayem berubah menjadi agresif merebutkan Gebi, termasuk pak lurah sang pemimpin desa. Mereka berbondong – bondong menuju rumah Gebi, mempersembahkan semua yang mereka punya, ada yang membawa bunga lengkap dengan potnya, martabak telur cecak, dan yang paling heboh adalah pak lurah, beliau mempersembahkan sembilan puluh sembilan kambing. “ku persembahkan sembilan puluh sembilan kambing untuk mu wahai putriku, agar kau dan donkinol tak kesepian lagi” kata pak lurah sambil mengedip ngedipakan matanya dengan gaya genit. “Gebi kamu tau nggak kenapa kopi rasanya pahit?” tanya salah seorang pembujang desa dengan gaya ala gombalnya. “Enggak, emang kenapa?” jawab Gebi. “karena manisnya sudah kamu ambil” sahutnya kembali. Gebi hanya tersipu malu mendengar gombalan pemuda itu.
Sudah satu minggu lebih kejadian aneh itu terjadi, para lelaki desa Anteng lan Ayem menghabiskan waktunya disekitar rumah sang kembang desa, sesekali mereka pulang hanya untuk makan dan mandi. Dan bagi mereka yang sudah berkelurga mereka juga melupakan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Tentu saja hal tersebut membuat resah para istri – istri mereka. Mereka tidak dapat mencegah dan menasehati para suaminya. Mereka sepakat untuk meninggalkan kampung yang mereka anggap sebagai kampung terkutuk tersebut. Predikat kampung unik bin udik menjadi lekat sepeninggal para wanita dari desa itu, tidak ada satupun wanita yang tersisa kecuali Gebi sang kembang desa. Unik karena desa tersebut hanya di huni oleh kaum laki-laki dan udik karena cara fikir para lelaki itu yang tak rasioanal.
Anto mencoba mencari jawaban atas semua keanehan yang timbul di desanya, dan dia juga merasa heran, kenapa hanya dia laki-laki yang tidak tertarik dengan kecantikan sang kembang desa itu? Dan apa yang dilakukan Gebi pada malam itu? Kenapa dipagi harinya semua lelaki menjadi agresif terhadanya? Semua itu menjadi pertanyaan besar di kepala Anto, yang sampai saat itu belum ia temukan jawabannya.
Dimalam bulan purnama berikutnya Anto terduduk lesu dipinggir sungai ditemani si Jamedong. Dia melihat bayangannya di air sungai terlihat jelas karena cahaya bulan yang menyinarinya. Tapi tiba – tiba ia kaget melihat bayangan wanita cantik dengan selendangnya yang berwarna pink tepat disebelah bayangannya. Kemudian ia mendongak, disampingnya hanyalah si Jamedong kambing kesayangannya, bukan wanita cantik seperti yang baru saja ia lihat. “mungkin yang tadi itu cuma perasaanku saja” katanya lirih. Ia melempar pandangannya lagi pada air sungai, dan lagi-lagi ia melihat sosok tersebut. Wanita itu tersenyum padanya. Sontak ia kaget dan mendongak kembali sambil berkata “jamedong siapa wanita itu? Dan kenapa bayangan mu tidak terlihat di air itu? Kenapa bayangan mu tergantikan oleh wanita itu? Siapa dia? Siapa dia?” tanya Anto dengan kucuran keringan dingin yang membasahi tubuhnya. “tenanglah Anto, lihatlah aku dalam bayangan air ini. aku adalah Jamedong. Inilah wujud asliku, untuk saat ini aku belum bisa banyak bercerita tunggu sampai malam tepat pada puncaknya, kambing yang ada disamping mu itu akan berubah menjadi sosok seperti yang kau lihat saat ini, yaitu aku” bayangan tersebut berkata demikian.
Malam sudah mencapai pada puncaknya dan saat itulah jamedong berubah menjadi sosok yang amat cantik, Anto merasa ketakutan melihat perubahan wujud itu. “Anto, inilah aku yang sering kau panggil dengan Jamedong, engkau tak perlu takut denganku, aku adalah putri kayangan yang di hukum di bumi sejak beberapa tahun silam karena kesalahanku terlibat cinta terlarang dengan saudaraku sendiri, nama asliku Setya Dewi” putri cantik itu menerangkan dengan singkat asal usulnya tanpa terlebih dahulu ditanya Anto, hal ini ia lakukan Agar Anto tak merasa takut dengannya.”lantas mengapa engkau selama ini berwujud kambing” tanya Anto dengan nada ketakutan “hakim kayangan merubah wujutku menjadi seekor kambing dan menurunkanku ke bumi sebagai hukuman atas kesalahanku sampai akhrinya kau menemukan dan merawatku dengan sepenuh hati” terangnya singkat. “dan kenapa baru sekarang engkau merubah wujud mu?” Anto kembali bertanya. “karena mulai malam ini hukumanku sudah berakhir, tadi malam kepala dewa kayangan memerintahkanku untuk segera menghentikan kejahatan pangeran Anggoro Murko, ia adalah kekasih terlarangku tempo dulu, sebelum akhirnya aku mendapat hukuman karena hal itu” jelasnya.
Putri Setya Dewi menceritakan semua kejadiyan yang menimpanya, selain dia pasangan terlarangnya di kayangan yang ia sebut tadi juga bernasib sama. Sang pangeran kayangan itu juga di hukum dan di rubah wujutnya menjadi seekor kambing di bumi ini, dan pangeran itu ternyata adalah Akamad Donkinol kambing sang kembang desa. Pangeran Anggoro Murko tidak terima dengan hukaman yang telah dijatuhkan padanya, kemudian ia mengabdi pada salah seorang dukun jahat yang dapat mengetahui sosok asli pangeran tersebut. Dukun itu memberi kekuatan jahatnya pada pangeran, dukun itu berusaha merubah pangeran ke wujud aslinya, tapi sampai sekarang ia tidak dapat melakukannya, walaupun demikian pangeran tetap mau bekerjasama dengan dukun jahat itu dalam setiap aksinya. “siapa dukun dan pangeran yang engkau maksut itu?” tanya Anto “dia adalah Gebi dan Akamat donkinol” jawab sang putri. Mendengar hal tersebut Anto terdiam seribu bahasa. Ia juga menghela nafas panjang sampai akhirnya perbincangan antara Anto dan putri Setya Dewi berlanjut. Mereka berdiskusi dan menyiapakan rencana untuk membongkar kedok Gebi.
Keesokan paginya Anto dan putri Setya Dewi mendatangi rumah Gebi yang sudah dipenuhi oleh para lelaki desa itu, “siapa kalian dan ada perlu apa kalian datang kemari” tanya Gebi “dia adalah Anto, pemuda pengangguran.. ia juga masyarakat desa ini Geb, dialah satu-satunya lelaki yang tidak tertarik pada mu” jelas salah seorang pemuda yang berjalan sempoyongan dengan botol bir ditangannya. “kau tidak tertarik denganku pemuda? Mustahil” kata Gebi dengan sanggahannya. “ia memang tidak tertarik dengan mu, karena ia sudah aku lindungi dengan kekuatanku” sahut putri Setya. “hai wanita, kau siapa dan apa maksut mu berkata demikian” belum sempat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Gebi, Gebi melihat dan mendengar Donkinol mengembik dengan keras ketika melihat dua sosok asing yang ada didekat Gebi “Donkinol ada apa dengan mu? Kenapa engkau terlihat takut melihat mereka berdua” tanya Gebi pada Donkinol. Donkinol menjawab dengan embek-embekannya itu, persis seperti kambing pada umumnya. Gebi mencoba menerjemahkan bahasa kambing yang yang dilontarkan Donkinol. Mereka sudah mempunyai ikatan yang kuat, ikatan kekuatan jahat sehingga mereka tidak sulit untuk sekedar berkomunikasi. Mendengar jawaban Donkinol sontak Gebi kanget dengan hal itu. Tapi ia berusaha menyembunyikan ketakutan yang ia alami saat itu.
Putri Setya Dewi siap dengan aksinya ia berkata keras meminta perhatian pada semua lelaki yang ada disitu untuk memperhatiakannya kemudian ia berkata “wahai saudaraku masyarakat Desa Ayem lan Anteng, lihatlah sang kembang desa dan kambing yang ada disampingnya itu” tanpa bosa basi Putri Setya langsung mengeluarkan jusus ampuhnya “bimsalabimmm achacaha heyheyhey” Gebi sang kembang desa berubah menjadi nenek peyot dan kambing itu tetap dalam wujud aslinya. Semua lelaki yang ada disana tercengang melihat hal itu, dan pengaruh sihir yang menjadikan mereka tergila-gila pada Gebi seketika hilang bersamaan dengan berubahnya Gebi ke wujud aslinya. Tak lama kemudian hakim kayangan beserta robongan datang, beliau menceritkan semua kejahatan Gebi sang dukun dan kambing jelmaan dari Penggeran Anggoro, hakim kayangan memutuskan akan membawa dukun peyot dan kambing jelmaan Panggeran Anggoro ke kayangan. Mereka akan dipenjarakan disana seumur hidup. Masyarakat desa Anteng lan Ayem sangat senang dengan keputusan hakim kayangan tersebut. Sekarang mereka merasa aman, tanpa khawatir ada pengganggu yang mengobrak – abrik ketenangan Desa itu.
Sebelum hakim kayangan meninggalkan bumi, ia mengajak Putri Setya Dewi untuk ikut serta dengannya ke kayangan dan menjadi seorang putri kayangan kembali seperti dahulu, tapi sang putri menolak, ia mengajukan permohonan pada semua dewa kayangan untuk mengizinkannya menjadi manusia seutuhnya. Ia berjanji akan tinggal dan menjaga desa Anteng lan Ayem dan menikah dengan Anto. Mendengar permohonan sang putri hakim ketua dan semua orang yang ada disitu kaget, terutama Anto. Tapi mereka hanya bisa diam seribu bahasa. Setelah bertelepati cukup lama dengan para dewa kayangan akhirnya Hakim ketua kayangan memutuskan Putri Setya Dewi mulai saat itu berubah menjadi golongan manusia biasa, dan gelar putri kayangan yang selama ini disandangnya dengan senang hati ia lepas. Mendengar keputusan itu semua masyarakat bersorak gembira. Kemudian hakim ketua beserta rombongan meninggalkan bumi dan membawa Gebi sang dukun dan si kambing jelmaan pangeran dalam keadaan tangan terikat dan tertunduk lesu. Beberapa detik kemudian rombongan dari kayangan, Gebi dan kambing itu sudah tak terlihat lagi. Mereka sudah meninggalkan bumi dan hendak menuju kayangan. Yang terlihat hanyalah sorak bahagia dari semua masyarakat yang ada disana.
Sore harinya para bapak-bapak yang kehilangan istri mereka mencoba mencari dan menjelaskan semua kejadian yang telah terjadi menimpanya. Dan kemudian mereka mengajak istrinya untuk kembali ke desa.
Pada malam hari semua warga sudah berkumpul dilapangan, satu persatu pak lurah mengabsen masyarakat Desa Anteng lan Ayem. Tak ada satupun masyarakat yang tertinggal. Mereka sudah berkumpul dengan suka cita, terlihat binar bahagia dimata mereka, bisa berkumpul dengan keluarga kembali merupakan harta terindah yang patut mereka syukuri. Di tengah kebahagian itu, pak lurah mengumumkan bahwa malam itu juga akan diadakan pernikahan antara Anto dan Setya Dewi dan saat itu pula pak lurah mempercayakan jabatannya pada Anto dan istri yang baru dinikahinya yang tak lain dan tak bukan yaitu Setya Dewi untuk memimpin Desa Anteng lan Ayem.
Malam itu adalah malam yang begitu bahagia, dan sejak saat itu Anto dan Setya Dewi menyandang gelar pak lurah dan bu lurah. Masyarakat desa Anteng lan Ayem sangat bahagia mendengar keputusan pak lurah saat itu, mereka menerima dengan suka cita atas lurah barunya tersebut.
Terbukti desa Anteng lan Ayem dapat menghapus predikat “unik dan udik” yang selama ini mereka sandang. Desa itu sekarang berubah menjadi desa modern dengan berbagai fasilitas yang sudah tersedia, dan yang paling penting jumlah antara perempuan dan laki-laki desa itu dapat imbang dan mereka juga mulai meninggalkan kebiasaan kawin satu desa, mereka sudah berani untuk meminang dan dipinang dari lain desa.
Sungguh indah Desa itu sekarang, hanya kerukuanan yang terlihat di antara mereka. Kesejahteraan, perdamaian dan ketenangan. Inilah yang yang disebut desa Anteng lan Ayem. Sangat tenang dan damai seperti namanya.
_SELESAI_




Tidak ada komentar:
Posting Komentar